Friday, 6 October 2017

RIP Bantul


Aku selalu ingat tongseng ayam pojok pasar Bantul jika ingin makan di sekitar pasar Bantul. Tiap kali berada disekitar situ dan pengen makan, aku akan pergi ke tempat itu. Begitu pula hari ini. Karena bangun kesiangan dan tak sempat sarapan aku putuskan untuk makan kesana saja. Hari ini aku harus ke Polres Bantul untuk mendapatkan SKCK guna melamar pekerjaan, ojek online. Dengan mendapatkan pekerjaan mungkin hidupku lebih berfaedah buat orang lain. Meskipun ojek online masih dipandang sebelah mata, apalagi buat lulusan sarjana sepertiku. Dan menjadi tukang sangrai kopi tradisional belum mampu membuatku hidup mandiri. Ya sudahlah aku ikuti saja seperti kata temanku asal Nganjuk “Saiki wes wayahe manut miline banyu...”
 
Dari sisi timur Bantul aku menyusuri jalan menuju pusat pemerintahan di tengah kabupaten. Sampai di sisi timur perempatan masjid Agung Bantul, sambil menunggu lampu berubah hijau, aku sudah merasa aneh. Apa aku sakit lagi? Tanyaku pada diri sendiri, badanku terasa panas. Rasanya ekstrim perubahan suhu badanku karena barusan melewati areal persawahan yang luas dan terasa sejuk. Harusnya suhu disekitar sini juga sejuk karena sepanjang jalan ditumbuhi pohon-pohon rindang, khas kota Bantul. Aku selalu suka melewati jalan ini, bisa dibilang jalan Bantul adalah jalan favoritku. Aku bahkan pernah berkhayal seandainya jalan-jalan di kota Jogja juga seperti ini, pasti orang-orang pada selow karena mendapatkan banyak oksigen dari pohon-pohon itu. Mungkin orang-orang akan berjalan pelan membawa kendaraannya untuk menikmati sejuknya jalan itu. Dan mungkin akan jarang orang yang bertanya “Kronologine piye Lur...?” di grup ICJ karena jarang ada kecelakaan. Kadar oksigen yang tinggi mampu membuat otak kita semakin fresh sehingga kita bisa fokus dengan konsentrasi tinggi. Apalagi pohon yang rindang membuat kita berjalan hati-hati karena minimnya cahaya yang menembus sampai di jalan. Yang paling penting, banyaknya pohon disekitar jalan mampu menyerap polutan dari kendaraan kita.

Aku memang habis sakit, demam dan salah minum obat. Jadinya pinggang kananku terasa sakit sampai ke kaki, bahkan migrein. Setelah aku gugling ternyata ada masalah dengan ginjalku. Lalu aku sikat dengan banyak minum air mineral, hasilnya lumayan, sakitnya berangsur pulih. Itu sudah minggu lalu, jatahnya mengambil SKCK juga minggu lalu sampai masa berlakunya habis dan harus bikin lagi secara online. Bikin SKCK sekarang gampang tetapi tidak mudah bagiku setelah menyadari bahwa pohon-pohon yang rindang di jalan Bantul itu sudah tidak ada. Alangkah terkejutnya diri ini saat memasuki kota Bantul. Bukan badanku saja yang terasa panas tetapi juga sepanjang jalan Bantul juga demikian.

Oh ternyata namanya bukan jalan Bantul tapi jalan Jenderal Sudirman. Ya, jalan itu sekarang sangat gersang dan berisi alat alat berat salah satunya ekskavator, truk-truk besar, dan chain saw. Masih berserakan dedaunan, ranting, dahan, dan beberapa potonganan batang pohon beserta remah-remah kambium kering di tengah jalan. Arus kendaraan dialihkan ke pinggir jalan, yang dulunya kalau tidak salah untuk sepeda, becak dan kendaraan tak bermesin. Jauh sebelum Jogja punya Sego Segawe di Bantul sudah ada jalur untuk sepeda. Penyumbang tenaga kerja untuk kota Jogja ya siapa lagi kalau bukan Bantul. Dulu para pekerja naik sepeda berangkat ke tempat kerja di kota meskipun rumahnya jauh di Bantul. Mereka melewati jalur sepeda itu. Sekarang mana ada orang berangkat kerja naik sepeda. Dan sebentar lagi mungkin jalur sepeda itu sama nasibnya dengan pohon-pohon besar disampingnya. Mereka akan dimusnahkan.

Aku harus fokus menyelesaikan urusanku di Polres untuk SKCK karena waktu sangat terbatas. Aku abaikan rasa panas di sepanjang jalan dan melupakan kenangan masa lalu tentang jalan itu. Tapi ternyata prosesnya cepat, tidak sampai setengah jam aku sudah dapat SKCK. Nah, untuk mengatasi rasa lapar aku putuskan untuk cepat-cepat ke tongseng ayam di pojok pasar Bantul. Keluar dari kantor Polres rasa panas langsung menyengat, aku kembali teringat bahwa pohon-pohon yang selalu membuat nyaman warga Bantul itu sudah hilang termasuk didepan Polres. Pohon-pohon yang membawa kesejukan setelah berurusan dengan Polisi itu tinggal khayalan belaka.
Penebangan pohon dan kerusakan alam selalu menyakitkan, hanya saja kita selalu terlambat menyadarinya. Aku beruntung tidak tinggal di kawasan itu sehingga tidak akan lama aku merasakan penderitaan hawa panas ini. Ah, namun terlalu egois kalau aku hanya memikirkan diri sendiri. Tapi apa yang bisa aku lakukan saat ini. Nasi sudah menjadi bubur, pohon-pohon itu sudah hilang. Lain ceritanya kalau pohon-pohon itu masih ada dan terdengar wacana mau menghilangkannya. Kita bisa menolak.

Oh iya, aku jadi bertanya-tanya, apakah ada penolakan sebelum pohon-pohon itu hilang? Ataukah terjadi begitu saja? Kurang afdol rasanya jika tidak menyelami masalah ini. Itung-itung bentuk solidaritasku atas semua ini aku akan menunda ke kantor ojek online untuk mendapatkan kerjaan. Lalu aku akan berjalan dari Polres ke pasar Bantul untuk makan tongseng ayam, tentu saja sambil kepo. Jaraknya tidak jauh buatku karena aku terbiasa jalan kaki. Saat terlalu lama menunggu bus yang menuju ke arah rumahku saja aku jalan kaki, dari terminal Giwangan menyusuri jalan yang searah dengan makam Raja-raja Mataram menuju rumah. Meskipun kurang berarti, langkah ini tetap ku alunkan, motorku pun aku tinggal di kantor Polres. Jelas tidak sebanding apa yang aku lakukan dengan keadaan ini. Pohon hilang, panas menyengat, debu-debu berterbangan, sangat tidak nyaman.
Benar saja, sepanjang jalan menuju pasar Bantul orang-orang bercengkrama tentang pohon-pohon yang hilang itu. Aku tetap diam tidak ikut nimbrung dan terus berjalan menuju tongseng ayam, aku hanya sekedar menguping pembicaraan mereka. Padahal aku sangat ingin tahu kapan dimulainya proyek ini dan mengapa itu dilakukan. Terdengar ada yang bilang “Sudah sejak awal bulan ini dikerjakan” di sebuah angkringan, ada yang bilang juga “jalan mau dilebarin untuk akses ke bandara Kulonprogo.” Yang jelas mereka tampak kecewa. Aku tak tahu apakah mereka asli tinggal disitu atau hanya kebetulan lewat, seperti diriku.

Sampailah aku di tongseng ayam, warungnya penuh pengunjung hingga aku tidak kebagian tempat untuk makan. Sabar aku menunggu sampai ada yang selesai makan lalu gantian aku memakai meja kursinya. Aku dapat tempat diluar warung paling pojok tepat berada di belakang orang jual gorengan, meskipun kurang nyaman aku yakin datangnya tongseng ayam di meja ini akan membuat suasana hati menjadi ceria. Disebelahku ada pria paruh baya yang sedang menunggu pula datangnya tongseng ayam, istrinya menunggu didepan meja kasir sekaligus tempat meracik tongseng ayam. Tak kusangka Ia memulai sebuah pembicaraan kepadaku “Kok bisa begini ya?” aku pura-pura kaget dan memberi tanda kurang jelas suaranya karena waktu Ia berbicara berbarengan dengan tukang gorengan memasukkan bahan gorengannya ke penggorengan, lalu aku menjawab “Apanya pak?” “Lho gimana to mas, lha itu ilang semua pohonnya, jadi panas banget begini” Bapak itu berbicara sambil menunjuk ke arah jalan. Aku pun kebingungan mau berbicara apa, aku tanyakan saja “Memangnya warga nggak diajak rembugan pak sebelum ditebang?” Bapak itu menjawab tidak tahu dan hanya bilang “Bupatinya baru mas.” Aku tidak tahu apa maksudnya. Ingin aku katakan harusnya warga diminta pendapat sebelum dieksekusi tetapi istrinya sudah mendapatkan bungkusan berisi tongseng ayam dan mengajaknya pergi.

Sejenak aku merenung saat masih di meja makan sambil menikmati saat-saat terakhir porsi tongseng ayam. Bantul tidak memiliki tanda pengenal seperti halnya Jogja dengan tugu pal putihnya. Dulu aku mencari-cari apa identitas kota ini. Setelah aku memahami bahwa identitas tidak terlalu penting namun perilaku dan mental kita lah yang paling penting, aku berhenti memikirkannya. Aku menemukan banyak orang yang diam-diam berkontribusi untuk kemajuan bangsa ini dan melakukan kebaikan tanpa mencari eksistensi, di kota ini. Aku menemukan banyak orang yang tanpa pamrih rela berkorban tanpa mengharapkan apapun apalagi harta yang berlimpah, di kota ini juga.  Aku melihat kesamaan dengan identitas kota ini, yaitu anggap saja pohon-pohon itu. Mereka memberikan kesejukan dan banyak manfaat tanpa banyak bergerak, memang begitulah takdir pohon.

Aku sangat menyesal telah banyak berkegiatan diluar kotaku sendiri sehingga tidak mengetahui sejak awal pohon-pohon itu hilang dan tidak bisa melakukan apa-apa. Lalu aku harus menyamakan warga Bantul dengan apalagi jika di Bantul sudah jarang ditemui simbol-simbol tentang alam? Banyak daerah yang masih alami dijadikan tempat wisata disini, pasti banyak yang hilang fungsi alam sebenarnya. Tau lah karakter orang kita bagaimana. Tentang Jalan Bantul eh Jalan Jenderal Sudirman dan pohon-pohon itu, kalau benar untuk akses ke bandara baru di Kulonprogo berarti pohon-pohon itu dikorbankan untuk kepentingan pembangunan. Aku jadi ingat waktu jalan-jalan ke pantai di Gunungkidul, disana aku berjumpa dengan para petani yang pulang berladang dan peternak yang sedang ngarit melewati jalan utama ke pantai tersebut. Mereka sering terancam nyawanya gara-gara para pengendara membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan tidak memperhatikan petani dan peternak yang lewat dijalan yang sama. Aku jadi bertanya-tanya, jalan itu sebenarnya untuk siapa? Untuk petani yang membawa hasil panennya? untuk peternak yang membawa hasil ngaritnya? atau untuk wisatawan yang memuaskan nafsu travelingnya?

Aku juga bertanya tentang jalan itu, sebenarnya dibuat untuk siapa? Dan aku sangat kecewa dengan apa yang telah terjadi. Walaupun nanti akan ditanam pohon yang baru, pasti akan beda rasanya. Ini bukan masalah pohon baru atau tidak. Ini tentang tujuan awal pohon itu ada (ditanam). Wisatawan yang pergi ke pantai Gunungkidul harusnya memahami bahwa jalan itu bukan miliknya maka sepantasnya mereka menghormati petani, peternak, dan warga sekitar dengan berhati-hati berkendara. Begitu juga para penebang pohon di jalan itu, harusnya menghormati keberadaan pohon itu beserta nilai yang terkandung didalamnya. Lha kok malah menghilangkannya. Apakah ini awal dari perubahan status Bantul yang ndeso ke urban? Aku harap tidak demikian, karena aku suka ndesonya Bantul.

Ah ngomong-ngomong soal rasa, tongseng ayamku ternyata sudah habis. Aku lupa membandingkan rasanya, apakah masih sama seperti yang dulu. Pastinya yang sekarang jauh lebih panas.

Pleret, 21 Agustus 2017

Tuesday, 14 March 2017

Pedestrian Malioboro


“Nek dikandani apik-apik, malah nesu...” Kata Upik waktu Ia berdiskusi tentang pedestrian Malioboro. Banyak masalah yang diungkapkan oleh anak-anak setelah kita jalan-jalan menelusuri pedestrian Malioboro dan berfoto di bangku seperti orang kebanyakan. Saat itu kita sedang menghayati peran seandainya menjadi Walikota Jogja. Bagaimana cara menata kota. Kasus yang kita angkat tentang penataan wilayah Malioboro.

Upik mengungkapkan bahwa tempat sampah yang disediakan malah kosong isinya, dia melihat banyak orang buang sampahnya di trotoar. Upik belum menegur orang itu, Ia masih menduga seandainya Ia memperingatkannya, orang itu akan marah-marah. Tentu saja Upik tidak asal ngomong, Ia sering lihat orang seperti itu, orang yang berbuat salah tetapi tidak terima dengan kesalahannya.

Upik masih kelas 5 SD. Bersama Dimas, Mustika dan beberapa temannya, ku ajak mereka jalan-jalan ke Malioboro pada minggu siang. Anak-anak itu sangat beruntung karena hidup di “jalan” dan tidak banyak menerima pengaruh negatif. Aku sering memposisikan anak-anak sebagai orang dewasa. Tentu saja harus ku kemas apa yang ingin ku bicarakan kepada mereka dengan “bahasa” mereka. Tidak mudah untuk melakukan itu. Ini semua kulakukan agar mereka kelak tidak sepertiku. Agar mereka menghindari keterpurukan seperti yang menimpa diriku. Karena itulah aku tidak harus menjadi orang baik untuk bisa dicontoh oleh mereka.

Keterpurukanku bisa saja sama dengan keterpurukan orang lain.  Jika memang demikian, ini sudah menjadi masalah kolektif. Misalnya tentang tempat yang nyaman untuk ditinggali, aku butuh suasana yang tenang dengan polusi yang minim, baik polusi udara, suara maupun cahaya. Bagaimana aku bisa melakukan perenungan jika saat dini hari aku masih mendengar suara-suara yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Dimanakah makna toleransi jika orang-orang yang menghasilkan suara itu tidak memahami bahwa waktu dini hari sebaiknya membiarkan kesunyian berlangsung. Buatku perenungan sangat penting, se-penting ibadah yang khusyuk bagi orang-orang shaleh, mereka pun tak jarang yang komplain tentang konvoi suporter sepakbola kasta antah berantah saat adzan mahrib tiba. Sesungguhnya aku juga ingin komplain dengan speaker masjid pukul dua pagi karena aku merasa terpuruk dengan itu.

Masalah kolektif ini yang ingin aku tunjukkan ke anak-anak melalui pedestrian Malioboro. Lalu mengapa harus menjadi Walikota? Aku tidak bermaksud menyuruh mereka mendukung Walikota atau bercita-cita menjadi Walikota. Aku hanya ingin menggiring anak-anak melihat pedestrian dari sisi pembangunnya, agar tahu alasan dibuatnya. Dan sebenarnya kita bukan walikota jadi kita punya sudut pandang lain yang lebih nyata tentang pedestrian Malioboro. Artinya kita punya dua sudut pandang untuk melihat kawasan itu. Dan tentu saja sudut pandang itu untuk memahami masalah kolektif tersebut.

Mustika menulis “Ada yang kencing sembarangan” di buku catatan kecilnya. Dia sangat tidak nyaman dengan hal itu, padahal dia sangat dekat dengan hal-hal semacam itu. Dia saja tidak nyaman apalagi orang lain yang tidak dekat dengal hal-hal itu. Jadi apakah orang yang kencing sembarangan itu sadar bahwa hal itu mengganggu orang lain? Aku yakin mereka paham, tetapi karena hal itu dianggap biasa saja maka mereka tetap melakukannya. Bahkan didepan istana Presiden atau monumen-monumen yang mengingatkan kita tentang perjuang masa lalu, yang memang masih di sekitar Malioboro.

Kencing sembarangan hanya satu contoh masalah yang menjadi masalah kolektif. Aku yakin masalah itu juga sama dengan masalah sampah, atau tentang limbah dari PKL, dan masih banyak lagi. Sebaiknya Anda datang langsung untuk mengamati apa saja yang membuat Anda tidak nyaman di Malioboro. Semua masalah tersebut adalah masalah kolektif yang mengganggu kenyamanan pengunjung. Hampir semua yang datang ke Malioboro bertujuan untuk rekreasi, keinginan tersebut terganggu karena masalah itu. Penataan kawasan tersebut juga untuk kenyamanan pengunjung meskipun ada beberapa pekerja jalanan yang kehilangan pekerjaan karena kegiatan ini, itu masalah lain. Artinya sebenarnya kita semua menginginkan kenyamanan. Para pelaku pengganggu kenyamanan pun sebenarnya menyadari bahwa ulahnya mengganggu kenyamanan. Apakah ini bisa dibilang intoleransi?

Mungkin memang begitu. Karena toleransi tidak melulu tentang perbedaan agama. Memahami keinginan orang lain juga termasuk toleransi. Penataan Malioboro seharusnya menyentuh ranah toleransi, itu pun masyarakat juga harus terlibat mewujudkannya. Jadi kalau kamu sengaja kencing sembarangan, membuang sampah sembarangan, membuang limbah jualanmu sembarangan, meminta-minta, dll, sedangkan kamu tau itu mengganggu orang lain, itu artinya kamu sudah melakukan tindakan intoleransi. Mengapa kita begitu mudahnya melakukan intoleransi? Karena kita lupa mewarisi budaya leluhur kita, padahal mereka punya anggapan bahwa bumi yang ditinggali hanyalah pinjaman anak-cucunya. Maka mereka meninggalkan petuah-petuah untuk kita tetapi kita lupa.

Lalu anak-anak aku ajak yuoutuban melihat banjir di Jepang yang menyebabkan beberapa tempat terlihat seperti kolam renang. Itu menunjukkan bahwa disana kebersihan sangat terjaga, coba kalau banjirnya disini, mirip seperti apa? Itu juga menunjukkan bahwa mereka masih memegang erat budaya leluhur, termasuk salah satunya menjaga kebersihan sebagai wujud dari toleransi. Sesungguhnya kita juga memilikinya. Tetapi kita lupa.

Aku juga menjelaskan ke anak-anak jika di beberapa gunung di Indonesia, pengelolanya menghitung jumlah plastik yang dibawa oleh pendakai saat naik dan turun sama atau tidak. Mereka dilarang meninggalkan sampah di gunung. Kalau jumlah plastiknya pas turun lebih sedikit, bisa saja plastiknya dibuang di gunung. Karena disana manusia benar-benar berdampingan dengan mahluk Tuhan lainnya, tumpukan sampah yang dibawa manusia menyebabkan mahluk lainnya terganggu bahkan bisa memusnahkannya. Malioboro memang bukan gunung, tetapi aku tanyakan ke anak-anak, bagaimana jika setiap yang datang kesana dihitung juga plastiknya? Atau didenda jutaan rupiah jika ketahuan nyampah, seperti di Singapura? Yang benar-benar ditindak tegas, Singapura kan karakter masyarakatnya mirip dengan kita?

Anak-anak menjawab “Kayanya susah deh, orang dikasih tau baik-baik aja malah nyolot...” Upik juga menjawab seperti di awal kalimat tulisan ini. Malioboro memang bukan alam bebas seperti gunung. Tidak banyak mahluk Tuhan lainnya yang hidup disitu. Manusia bisa seenaknya saja bertindak dan berpendapat. Aku tanya lagi ke mereka, jadi Walikota susah apa gampang? Kalau jadi rakyat gimana? Mereka menjawab dengan topik pembicaraan lain “Mas pinjam laptop ya, buat nonton film” Ah sepertinya aku butuh kopi lagi

Thursday, 29 October 2015

Minyak Goreng

Aku sangat lelah dan butuh tidur. Entah kenapa saat ini setaminaku semakin menurun. Mungkin karena setiap malam aku harus menyeduh kopi. Tapi aku memiliki tanggungjawab untuk mengasuh anak-anak. Karena itulah tubuhku tetap tegar untuk menemui mereka. Waktu sudah berjalan menuju ashar, aku sudah sangat telat untuk bertemu mereka.

Seperti biasanya, saat aku tiba di lokasi bermain para krucil langsung nyamper di tubuhku. Ada yang memeluk tubuhku, ada yang naik di punggungku, ada yang menarik tanganku, dan semuanya berbicara kepadaku. Aku selalu bingung harus jawab yang mana dulu. Selain aku tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, kali ini mereka kecewa karena aku datang terlambat, bahkan waktu bermainnya telah habis.

Dalam beberapa minggu terakhir ini dan termasuk minggu ini aku telah menelantarkan mereka. Apa boleh buat, setiap minggu selalu saja ada undangan pernikahan dari teman-teman dekat. Dalam beberapa upacara pernikahan aku juga harus bertanggungjawab atas bagian hiburannya. Hahaha mereka baru menikah, aku malah sudah punya banyak anak. Memang mereka bukan anak kandungku tetapi aku sudah merasa memilikinya. Aku senang sekali bermain dengan mereka, siapa lagi yang akan meneruskan perjuanganku kalau bukan anak-anak? Seorang istri belum tentu punya perjuangan yang sama denganku. Lagian orang dewasa sangat sulit didoktrin sesuai dengan keinginan kita. Aku ingin saat anak-anak tumbuh dewasa kelak bisa mandiri dan mau berbagi.

Alhasil aku hanya bercengkrama dan gojek dengan beberapa anak saja setelah waktu bermainnya habis. Mamat salah satunya. Seminggu yang lalu Ia sms aku "Maskokkemarentidakdatang” kata-katanya tanpa spasi tapi masih bisa kupahami. Aku janji sama mereka untuk menyelesaikan pembuatan minyak goreng dari kelapa tetapi tak kupenuhi janji itu. Iya kelapa bukan kelapa sawit. Karena kelapa sawit adalah penyebab kabut asap yang telah menyengsarakan banyak orang. Mamat lah yang paling antusias membuat minyak goreng kelapa itu setelah kami mencari tahu penyebab kabut asap tersebut.

Saat itu orang yang melihat kami di pinggir kali Code membakar sampah dan menghirupnya pasti mengira aku sedang mengajari anak-anak pada hal yang tidak benar. Padahal waktu itu aku cuma ingin mengajak anak-anak menghayati betapa susahnya hidup dengan kabut asap. Mereka mengumpulkan sampah sambil berjalan menuju tempat bermain, yakni di pinggir kali Code yang kemudian dibakar. Mamat pun bertanya "kok hutan bisa kebakaran ya mas? Bakar sampah segini aja sudah nggak enak rasanya, bikin sesak nafas.." Ku coba jelaskan kepada mereka, ada dua kemungkinan mengapa hutan bisa terbakar, ada yang terbakar secara alami ada juga yang sengaja dibakar. "Kenapa sengaja dibakar..?" tanya temannya Mamat. "Mau dijadikan kebun Sawit nak", jawabku. Seperti yang telah terungkap saat ini, begitulah mengapa hutan dibakar untuk kepentingan tertentu. Coba sajalah googling atau ikuti informasi dari LSM pemantau sawit, kalau ingin data konkritnya.

Ternyata penyebab kabut asap sangat dekat dengan kita. Dan kita sangat sulit beranjak darinya, termasuk diriku yang sudah sangat bergantung pada minyak goreng dari sawit. Oleh karena itu aku mengajak anak-anak membuat minyak goreng dari kelapa. Merekalah yang kelak akan menentukan, apakah tetap membabat hutan atau tidak. Setidaknya banyak pohon kelapa yang tumbuh dengan tidak mengalihfungsikan hutan kalau kita mau membuat sendiri minyak goreng dari kelapa. Jadi anak-anak kelak memiliki pilihan, apakah mereka ingin mandiri dan melestarikan lingkungan atau tidak.

Banyak hal yang dulu kita miliki kini telah direnggut oleh orang lain. Tidak hanya minyak goreng yang telah hilang dari tradisi kita sehari-hari, hampir semua yang ada di sekitar kita dikuasai oleh orang lain. Konon dulu setiap rumah tangga di desa membuat minyak goreng dari kelapa. Banyak pula yang mahir memanjat pohon kelapa untuk mendapatkannya. Karena selain menjadi minyak goreng, kelapa juga bisa menjadi beraneka macam bahan makanan. Kini keahlian mengolah bahan makanan sendiri, merawat pohon di sekitar tempat tinggal dan berolahraga dengan memanfaatkan alam telah terkikis dalam masyarakat.

Interaksi antara masyarakat dengan pohon kelapa bahkan di beberapa daerah telah menumbuhkan sebuah budaya. Dalam Bekisar Merah, Ahmad Tohari telah menggambarkannya secara gamblang sebuah desa bernama Karangsoga yang sebagian besar menjadi pemanjat kelapa untuk menyadap nira. Tidak ada istilah jatuh dari pohon kelapa disana, mereka menggantinya dengan kodok lompat agar mereka tetap kuat jika terjdi insiden jatuh dari pohon kelapa. Para pemanjat pohon kelapa masing-masing punya gaya berkomunikasi dengan istrinya, yakni dengan meniup pongkor wadah nira yang masih kosong sehingga berbunyi “hung”. Tentu yang masih kita ingat adalah mainan gasing dari bakal buah kelapa untuk anak-anak, disana pasti juga ada. Dan masih banyak lagi. Kini romansa itu perlahan mulai hilang. Tak ada yang salah dengan sawit tapi orangutan pun mungkin tak sanggup bergelantungan di pelapahnya. Jadi karenanya tidak hanya alam yang rusak atau orang-orang menjadi susah bernafas tetapi juga tentang romansa yang hilang.

Aku pun hanya bisa turut prihatin. Yang bisa kulakukan hanyalah mendidik anak-anak agar mereka tidak mengulangi kesalahan generasi saat ini. Saat Mamat meminta uang untuk membeli layangan sambil membawa layanganya yang bolong, aku menolaknya. Ku ajaknya menambal layangan itu, dengan kertas bekas coretannya dan mengelemnya dengan nasi. Alhasil layangannya bisa terbang kembali dan Ia ceria kembali. Ini bukan tentang mampu atau tidak mampu membeli layangan tetapi tentang sebuah kemandirian. Kebetulan layangan lah yang Ia bawa saat itu, dalam hal lain aku ingin mereka juga melakukan hal yang sama. Untuk kasus kabut asap ini, aku dan anak-anak melawan asap dengan membuat minyak goreng dari kelapa untuk memasak orangtuanya.

Aku dengan ijazahku bisa saja menjadi orang yang banyak duit jika saja ku terima tawaran bekerja di perusahaan sawit seperti teman-temanku saat ini. Kini aku tetap menjadi pengangguran yang setiap hari merasakan kopi yang pahit. Tetapi setelah aku menghayati rasa pahitnya, ternyata nikmat sekali. Memang hidup ini senikmat kopi yang pahit.

Wednesday, 20 November 2013

Mengatur Ritme

“Seni itu fleksibel bisa masuk kemana saja…”, kata seorang rekan tetangga desa yang baru ku kenal. Setelah saya pikir-pikir ternyata pertanian juga salah satu bentuk kesenian. Seni mengolah alam untuk kita ambil manfaatnya agar kita bisa bertahan hidup. Oleh karenanya kita bisa sangat bebas berekspresi di ladang untuk kita “lukis” ataupun kita atur “nada”-nya agar tercipta sebuah harmoni. Hanya saja seni di alam haruslah mengikuti ritme yang telah terbentuk agar tidak “fals”, kita hanya tinggal menambahkan sedikit “melodi” saja.

Sebuah tumbuhan memiliki ritme yang sangat khas, berbeda dengan mahluk lainnya. Ia tidak bisa berjalan. Ia mampu menerjemahkan sengatan mentari menjadi sebuah kehangatan bagi mahluk lainnya dengan menjamin isi perut mereka. Ia menyimpankan air di dalam tanah agar mahluk lainnya tak berdahaga, membersihkan udara agar mahluk lainnya bisa leluasa bernafas. Ia justru memakan kotoran dan sisa-sisa kehidupan dari mahluk lainnya. Namun Ia sangat konsisten memberikan makanan kepada mahluk lainnya, ini jauh diatas tingkat keikhlasan mahluk lainnya. Itulah sebuah ritme yang sangat mulia dari sebuah tumbuhan.

Pada dasarnya seni adalah sebuah ritme yang diberi “sentuhan” tanpa merubah ritme tersebut. Sementara tujuan seni untuk menciptakan sebuah keindahan. Mejikuhibiniu yang muncul di langit adalah sentuhan pada langit yang telah diritmekan oleh awan. Maka muncul sebuah keindahan di langit yang disebut pelangi, itulah seni. Sebelum muncul pertanian, alam telah memberi sentuhannya sendiri pada dirinya. Tumbuhan selain sebuah produk seni yang memiliki ritmenya sendiri, Ia juga sebuah sebuah ritme di alam. Mahluk lainnya juga sebuah ritme di alam. Angin, air, api, bebatun dan yang lainnya juga sebuah ritme di alam.

Ritme tumbuhan terkait dengan kehidupan mahluk lainnya, begitu pula sebaliknya. Tumbuhan selalu memberi makan herbivor. Karnivor selalu memakan herbivor. Dekomposter selalu membusukkan tumbuhan, herbivor dan karnivor serta kotorannya. Tumbuhan selalu memakan hasil pembusukan dekomposter. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Angin selalu bertiup ke tekanan udara yang lebih rendah. Bebatuan selalu tertarik pada gravitasi, dan lain sebagainya. Seluruh ritme-ritme yang ada saling menyentuh sehingga tercipta karya seni. Uniknya, karya seni yang dibentuk oleh alam tercipta karena ritme-ritme yang ada saling bersinggungan, saling membutuhkan, saling ketergantungan.

Manusia pada awalnya juga “bagian” dari ritme-ritme tersebut, mungkin Ia herbivor, mungkin pula Ia karnivor. Hingga pada akhirnya Ia bisa membaca ritme alam. Ia tahu bahwa benih yang jatuh terbawa angin kelak menjadi tumbuhan baru. Kemudian Ia mengubah tumbuhan menjadi tanaman dengan mengambil benih-benih tersebut. Ia mendomestikasikan tumbuhan yang ada di hutan ke wilayah tempat tinggalnya. Ia perlahan meninggalkan kebiasaannya berburu makanan. Lalu muncullah pertanian, sebuah peradaban bagi manusia.

Pertanian adalah sebuah teater (karya seni) dimana manusia adalah sutradara sekaligus penulis skenarionya. Tanaman menjadi aktor utama dalam film tersebut. Alur ceritanya selalu menanam benih, menumbuhkan dan merawatnya, lalu memanennya (ritme). Didalam skenarionya, aktor utama diunggulkan sehingga pemeran yang lain (herbivor, karnivor, angin, dll) dikalahkan. Tanaman adalah tokoh protagonis sementara pemeran lainnya antagonis. Herbivor adalah pemeran antagonis yang menjadi momok bagi tanaman (menurut sutradara), hingga Ia mendapat julukan hama. Sentuhan manusia pada tanaman dalam mengusir hama, memupuk tanaman ataupun mengatur masa tanam menjadikan pertanian sebuah karya seni.

Bertambahnya jumlah manusia menjadi permasalahan tersendiri dalam hal penyediaan pangan. Skenario lama dirasa tak bisa mengatasi permasalahan ini. Muncullah skenario baru, dimana para pemeran antagonis akan dimusnahkan dari panggung teater, agar menghasilkan banyak panagn. Sang sutradara memanfaatkan keluwesan seni bercocok tanam ini pada ranah ilmu pengetahuan. Disana diperoleh pestisida, pupuk sintetis dan benih hibrida yang mendukung pemusnahan tokoh antagonis.

Itulah seni, bisa masuk kemana saja, termasuk pertanian. Kini pertanian masuk ranah akademis, seni yang dipelajari secara ilmiah menghasilkan produk-produk pemusnah seperti diatas. Masuk ke ranah bisnis pula karena setiap orang tidak sanggup menjadi sutradara alam. Orang yang tak sanggup berkesenian di alam tinggal membayar untuk mengenyangkan perutnya. Masuk ke ranah birokrasi sehingga pemerintah bisa mengintervensi cara mengolah alam para senimannya.

Sang sutradara mungkin lupa bahwa sesungguhnya tokoh antagonis tidak bisa berakting. Mereka hanya mampu berperan di alam yang sesungguhnya. Jika mereka dimusnahkan yang terjadi justru menghilangkan ritme yang ada di alam. Sehingga keindahan alam akan berkurang. Seni itu akan hilang. Karena seni adalah ritme yang diberi sentuhan tanpa merubah ritme itu sendiri.

Thursday, 1 August 2013

Kopi Gayo

Di malam yang dingin ini tarawih diakhiri dengan bincang-bincang sambil minum kopi. Tak ada khotbah ataupun ceramah, semuanya bebas berbicara ngalor-ngidul. Ini justru mirip seperti sekumpulan orang di kedai kopi, hanya saja tak ada meja dan kursi. Di menasah yang sudah miring ini suasana tetap hangat seolah tak ada bencana apapun yang menimpa Cang Duri, sebuah desa di pedalaman Gayo, Aceh Tengah. Mereka juga tak peduli dalamnya jurang di samping menasah, apalagi beberapa tebing di sekitaranya telah longsor. Malam lah yang melindungi segalanya, gelapnya malam menutupi semua ketakukan. Ketika mentari menyapa, satu-satunya menasah yang masih berdiri di Cang Duri ini menjadi saksi gundulnya tebing di seberang lembah, rumputnya kering kehitam-hitaman akibat kebakaran.

Kopi gayo ini terasa sangat manis. Entah karena mereka tahu saya orang Jogja atau karena selain berladang kopi mereka juga punya ladang tebu yang luas. Jadi sah-sah saja memakai banyak gula tak perlu khawatir kehabisan. Setelah hening mengamati orang-orang berbicara dengan bahasa Gayo pembicaraan kecil merubahku menjadi manusia, tak lagi seperti alien di planet asing. Untung leluhur kita mewarisi bahasa persatuan yang bisa digunakan siapa saja. Bayangkan jika tak ada bahasa persatuan, tiap pergi ke daerah lain kita harus belajar bahasa yang baru. Di desa kecil seperti Cang Duri terdapat empat bahasa yang digunakan, yakni bahasa Gayo, Aceh, Jawa dan Indonesia. Saat sahur tiba warga dibangunkan menggunakan semua bahasa tersebut melalui pengeras suara di menasah.

Pembicaraan ini tentang kopi, disini semua orang menanam kopi sehingga dengan mudah mereka membicarakannya. Hamparan kebun kopi dan tebu menghiasi seluruh desa bahkan mungkin seluruh kabutapen. Diantara pohon kopi dinaungi lamtoro, orang-orang menyebutnya petai dan juga beberapa tanaman buah seperti jeruk, alpukat, mancang dan durian. Kebun kopi berada di belakang rumah menyatu dengan pemilik kebun. Sementara di sekitar rumah tumbuh liar tanaman yang bisa dikonsusmsi keluarga seperti ubi, terong, terong gelatik, tomat, cabai, markisa, bayam, kacang panjang, buncis, dan jipang. Jadi selain bisa menikmati kopi setiap hari, kita juga bisa menikmati sayur-mayur dan buah-buahan. Di saat terjadi bencana seperti ini sebenarnya nutrisi tetap dapat dipenuhi dari sekitar rumah.

Kopi Gayo telah ditinggalkan warga, padahal salah satu kedai kopi terkenal lintas negara asal Amerika menjadikannya sebagai produk unggulan. Pohonnya besar, ukuran kopinya kecil, perlu waktu tiga tahun untuk panen dari awal tanam. Saat ini petani menanam kopi yang ukuran pohonnya kecil dan pendek, paling tinggi sekitar dua meter, mereka menyebutnya Kopi Ateng. Nama ini sesuai ukuran sang pelawak legendaris Indonesia, tapi bisa juga merupakan akronim dari Aceh Tengah. Kopi tersebut dibudidayakan melalui bibit unggul, yang tentu saja membutuhkan bantuan pupuk sintetis untuk membudidayakannya. Entah mana yang dimaksud Kopi Gayo, apakah varietas asli kopi tersebut atau dari daerah mana kopi tersebut dibudidayakan. Yang jelas kedai kopi terbesar itu telah mengolahnya dan memasukkan di menu kedainya dengan nama Gayo. Mungkin mereka tahu orang Gayo tak mau disebut orang Aceh, jadi namanya Kopi Gayo bukan Kopi Aceh.

Ketika pagi telah tiba, anak-anak remaja berpamitan tak bisa pergi ke sekolah darurat karena mereka harus membantu orang tuanya memetik kopi. Akhirnya kita putuskan untuk membantu memanen kopi sekaligus berdiskusi tentang kopi. Diskusi ini tidak selalu ilmiah karena tidak didasari dengan teori-teori tertentu. Dalam kondisi darurat seperti ini mana bisa mencari literatur, dalam kondisi normal saja anak-anak SD di Cang Duri mengutarakan bahwa mereka susah mengakses perpustakaan sekolah, saat ini buku-buku justru berserakan tak karuan terkena panas dan hujan. Ya, ini hanya sebatas diskusi untuk menghilangkan trauma pasca gempa yang telah meluluhlantahkan desa mereka.

Sambil memegang kopi yang telah dipetik, duduk di samping ladang kopi dengan kursi sekolah yang telah rusak, kami mencari tahu dari mana datangnya kopi ini dan sampai di tangan siapa saja setelah dipanen. Kata salah satu petani, kebun-kebun kopi berkembang sejak 70-an, mereka menanam kopi Ateng dari biji kopi petani lain yang telah ditanam sebelumnya. Dalam diskusi ini, menurut perkiraan remaja SMP yang kebetulan semuanya perempuan, kopi berkembang sejak zaman kolonial. Kopi Gayo menjadi minuman favorit orang-orang Eropa, kemudian para penjajah melakukan tanam paksa terhadap pribumi dan hasil panen petani menjadi komoditas dagangnya. Pada saat itu rempah-rempah dan bahan makanan yang menghangatkan tubuh sangat menguntungkan untuk dijual di Eropa, sayangnya masyarakat kita tidak bisa mendapatkan keuntungan tersebut.

Sayangnya pula meskipun telah merdeka sampai saat ini kita masih dijajah oleh negara lain. Kopi Gayo menjadi salah satu sarananya. Kopi Gayo telah sampai ke tangan “orang lain” melalui kedai-kedai kopi elit. Kita menanamnya dengan susah payah tetapi kita juga yang membelinya kembali dengan harga yang relatif mahal. Petani selalu terlilit utang dengan toke yang membeli hasil panennya, sementara eksportir menikmati hasil jualan kopinya ke luar negeri. Saat ini, ditengah bencana yang melanda petani mereka tetap setia mengirim kopi ke luar negeri.

Orisinalitas Kopi Gayo juga telah tereduksi bukan hanya karena varietas aslinya tidak ditanam lagi tetapi juga karena kondisi alamnya telah berubah. Meskipun tanah di dalam kebun kopi baik-baik saja tetapi lahan-lahan di sekililingnya telah rusak. Kelihatannya memang tidak berpengaruh tetapi sekecil apapun komponen lingkungan yang hilang pasti berpengaruh terhadap keseimbangan alam. Kerusakan lingkungan mungkin juga mempengaruhi kualitas kopi, banyak petani yang mengeluh hasil panen tidak seperti yang dulu. Belum lagi jika nama kopi ini identik dengan wilayah geografis yang dahulu masih terjaga kelestariaanya. Kini tebing-tebing yang dulu hijau telah kering dibakar, beberapa diantaranya telah terbungkus mulsa plastik dan berdiri secara teratur tanaman cabai dan tomat. Ada beberapa kebun kopi yang rusak karena longsor setelah gempa, mereka kini takut berladang.

Setelah selesai berdiskusi mereka berlatih menari Beberu Gayo, saya kira disini hanya punya tari saman. ternyata banyak jenis tarian yang mereka miliki. Tak ada sanggar tari disini, mereka mendapatkan gerakannya secara turun-temurun sehingga wajar kalau lupa tariannya, rutinitas sekolah telah mengambilalih pelestarian tradisi tersebut. Tak ada wadah yang menampung penampilan mereka. Debu yang berterbangan tak mereka hiraukan dan tetap berlatih menari dengan mengingat-ingat gerakan dan mencari-cari file mp3 musik pengiringnya. Sejenak mereka lupa akan bencana ini, mereka lupa pula diskusi tentang kopi barusan.

Jadi pergerakan lempeng bumi telah meluluhlantahkan Tanoh Gayo beberapa waktu yang lalu. Sekilas mirip gempa di Bantul pada 2006. Kejadian ini juga mengingatkan saya ketika masih sekolah dan kehilangan rumah karena gempa bumi. Semua orang hidup di tenda merasakan panasnya siang dan dinginnya malam secara ekstrim. Meghirup oksigen beserta debu sekaligus. Bermandikan hujan ketika langit tak bersahabat. Namun selalu ditunjukkan keindahan ciptaanNya di langit yang luas setiap malam. Seakan bencana ini datang karena Dia hanya sekedar menunjukkan kekuasaanNya. Sekarang saya hanya bisa bersyukur, ditengah bencana masih bisa menikmati kopi yang enak. Memang hidup ini senikmat kopi yang pahit.

Saturday, 29 June 2013

Penghasil Sapu

Kabut pagi belum juga beranjak pergi meskipun sudah mulai menipis. Dua orang nenek sedang sibuk memegang tali. Kedua tangan mereka bergantian mengulur dan menarik tali itu. Roda kayu berputar-putar menggulungnya. Tali berwarna hitam sekilas seperti rambut yang tak pernah dicuci. Satu persatu disambung, dililit, dipelintir menjadi tali yang panjang berdiameter setengah centimeter. Gempa Bantul yang lalu, beberapa bangunan darurat menggunakan tali ini sebagai pengikat antar bambu yang digunakan sebagai kerangkanya.

Ijuk atau injuk kata urang sunda, menumpuk di gudang-gudang sepanjang Cimuncang. Tercecer di sepanjang jalan yang rusak aspalnya. Didatangkan dengan truk-truk berplat nomor "z". Konon ijuk berasal dari pohon kawung atau semacam aren yang juga menghasilkan kolang-kaling dan gula merah, pelepahnya bisa juga dibuat menjadi gagang pisau, didalamnya terbungkus serat hitam panjang seperti rambut. Serat tersebut biasanya diturunkan satu persatu dari truk melewati gabah yang sedang dijemur beralaskan tikar anyaman bambu di sepanjang jalan Cimuncang yang rusak.

Diantara tumpukan ijuk tersebut ada beberapa plastik berwarna-warni, merah, hijau, biru. Berbentuk segitiga yang bagian bawahnya terdapat beberapa lubang. Plastik ini biasa digunakan untuk memasang ijuk lalu bagian atas dipasang gagang, jadilah sebuah sapu ijuk. Cimuncang dan Cigintung yang baru saja terkena musibah bencana pergeseran tanah memang dikenal sebagai penghasil sapu ijuk.

Pengusaha ijuk tampak mencolok diantara warga lainnya. Biasanya bangunan rumahnya paling megah dan berlantai dua, dengan pintu harmonika yang panjang, didalamnya berisi ijuk dan aktifitas untuk merangkainya menjadi tali dan sapu. Kepadatan penduduk di Cimuncang memperlihatkan perbedaan tersebut. Tak ada tanah pekarangan layaknya rumah-rumah di desa seperti kebanyakan. Setiap rumah seperti kembar siam, saling berdempetan. Sementara di Cigintung rumah mewah dan rumah biasa saja telah roboh akibat bencana pergeseran tanah, keduanya tak lagi memiliki perbedaan.

Beberapa masjid mewah berdiri di Desa Cimuncang. Jika berjalan menelusuri bukit-bukit diatas desa tersebut, masjid-masjid itu bagaikan fatamorgana ditengah gurun pasir yang tentu saja eye catching. Keberadaannya terlihat paling jelas diantara bangunan lainnya. Masjid seperti istana sebuah kerajaan yang berada ditengah-tengah pemukiman warga. Cobalah berjalan lebih dekat ke arahnya, maka istana tersebut tidak akan membagikan kemegahannya. Sekalipun pada langgar yang notabene kerabatnya bahkan pada empang yang bisa menegaskan kemerdekaan orang-orang Cimuncang.

Jika malam tiba keindahan istana itu terpancar semakin megah dengan sorotan lampu yang mengarah di kubahnya. Disebrangnya sekerumunan orang sedang asyik berbincang-bincang. Jalan sekitar masjid setiap malam selalu ramai suasananya, mereka melepas lelah setelah seharian bergelut dengan ijuk. Kerumunan orang dewasa dan remaja selalu terpisah. Orang dewasa biasanya menempati warung-warung kopi, ada pula yang asyik bermain kartu remi di warung pojok dibawah sinar lampu temaram. Remaja duduk didepan teras rumah sambil mengalunkan lagu-lagu jaman sekarang menggunakan gitar, gitar yang sekaligus menjadi alat pukul, dua orang mengiringi nyanyian tersebut satu orang bermain gitar dengan memetik senarnya, orang yang lain bermain gitar untuk memberikan tempo dengan memukulinya di bagian belakang body gitar. Mereka dan angin lembah selalu menyambut kedatangan jamaah yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Mereka akan beribadah di istana yang megah tersebut.

Sementara plastik-plastik berserakan di pinggir-pinggir jalan, sebagian larut dalam hujan hingga terbawa di empang. Terkumpul di sudut-sudut empang, sesekali menggangu para pemancing yang berdatangan ketika ada orang yang merayakan syukuran dengan melepas banyak ikan kedalamnya. Tertimbun tanah, seakan mereka dipaksa membusuk didalamnya agar menyatu menjadi tanah atau hanya untuk sekedar melupakannya tetapi mereka bagaikan minyak dalam air, tak dapat bersatu. Tertiup angin hingga berterbangan kemana-mana bahkan ke sekolah-sekolah seolah mengajarkan murid-murid untuk membiarkannya.

Kebersihan sebagian dari iman begitulah kata pepatah yang sangat familiar ditelinga kita. Iman biasanya muncul dari orang-orang yang rajin beribadah. Tempat ibadah seperti masjid pastinya mengajarkan orang-orang yang beriman untuk menjaga kebersihan. Tokoh agama selalu mengingatkan agar kita selalu menjaga keimanan. Menjaga kebersihan merupakan manifestasi dari menjaga keimanan. Namun tokoh dan umat beragama lebih memahami bahwa manifestasi keimanan adalah bekerja mencari nafkah, memenuhi kehidupan dunianya. Seperti yang diutarakan oleh mbah Weber dalam Protestant Ethic yang mendasari lahirnya kapitalisme. Sehingga kita lupa akan manifestasi keimanan yang sangat sederhana tersebut, menjaga kebersihan.

Di tempat yang menghasilkan sapu tersebut, masalah kebersihan sesunguhnya menjadi sebuah bom waktu yang suatu saat bisa meledak. Persis seperti wabah penyakit gondok dalam masyarakat pesisir penghasil garam. Kita telah lupa “menyapu” daerahnya sendiri padahal menghasilkan banyak sapu. Orang yang tidak punya sapu mungkin kesulitan membersihkan lingkungannya tapi di daerah penghasil sapu justru melupakan fungsi sapu. Manifestasi keimanan tidak mampu ditularkan oleh tokoh agama melalui spirit megahnya sebuah istana masjid, kalau tak sedikitpun mereka membicarakannya bagaimana dengan sekerumunan orang yang asyik di jalanan masjid? Kalau kita telah lupa menjaga kebersihan, bagaimana dengan menjaga alam? Semoga dibalik bencana pergeseran tanah di Cigintung yang disebabkan oleh ulah manusia selalu ada hikmahnya.

Kabut pagi kembali turun, menemani para pekerja pembuat sapu ijuk, megahnya Gunung Ciremai tertutup olehnya, begitu seterusnya.

Monday, 27 May 2013

Menu Makan

Ditengah dinginnya malam pegunungan dan senandung rintik hujan, di salah satu posko relawan sedang dibahas menu makan harian untuk menunjang aktivitas para relawan setiap hari. Longsor di Cigintung, Majalengka mengundang banyak relawan dari berbagai lembaga untuk menolong korban bencana tersebut. Asupan makanan relawan menjadi salah satu hal yang wajib diperhatikan agar kondisi mereka tetap terjaga. Bagi sebagian relawan memilih menu makan begitu penting karena tidak semua jenis makanan mereka sukai ataupun ada beberapa makanan yang membuat mereka alergi. Tetapi bagi sebagian yang lain tidak terlalu penting karena bagi mereka yang terpenting adalah mengabdi pada masyarakat bukan memilih menu makanan. Bagi mereka tak perlu ambil pusing tentang menu makanan yang sangat sederhana, yang penting makanan tersebut sehat dan layak dimakan. Maka terjadi sedikit perdebatan diantara mereka hanya tentang pemilihan menu makanan. Malam yang dingin menjadi sedikit memanas karena perdebatan tersebut.

Saya terlibat dalam forum itu, dan saya juga tidak terlalu ambil pusing dengan perdebatan tersebut. Bagi saya yang terpenting bagaimana caranya para pengungsi bencana longsor tersebut bisa ditolong. Jadi hal sepele semacam itu tidak perlu dipermasalahkan. Namun saya melihat satu hal yang menarik dari menu makan harian para relawan. Menu makan tersebut mungkin dapat menggambarkan bagaimana bencana longsor di Cigintung bisa terjadi.

Sudah dua minggu saya bermasyarakat di Cimuncang, tempat pengungsian korban longsor Cigintung. Saya tinggal di salah satu rumah warga. Kebutuhan makanan disediakan oleh pemilik rumah, setiap hari ibu pemilik rumah memasak untuk relawan. Saya makan makanan yang sederhana meskipun demikian tidak mempengaruhi kegiatan saya sehari-hari sebagai relawan. Tidak banyak ragam sayuran yang disajikan di meja makan. Sambal tomat selalu tersaji di meja makan dilengkapi dengan lauk berupa tempe, tahu, telor terkadang ayam goreng. Mentimun juga selalu tersaji disana sebagai lalapan apapun makanannya, terkadang ada buncis mentah menemaninya. Menu ini mirip seperti yang disajikan di warung penyetan di Jogja. Sementara sayur sop yang berisi irisan wortel, buncis dan kentang dan juga tumis kangkung menjadi selingan menu makanan sehari-hari.

Setiap makanan yang disajikan terasa asin namun bukan suatu masalah bagi saya karena memang begitulah karakter masakan di Cimuncang dan saya menyadari dari masa saya berasal. Hanya saja saya penasaran dari mana datangnya sayuran yang ada di meja makan setiap hari. Lahan-lahan di Cimuncang dan sekitarnya sama sekali tidak ditanamai sayur-mayur. Uniknya dataran tinggi seperti di Cimuncang dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl lahan-lahan pertanian dihiasi dengan tanaman padi. Memang saya belum pernah memperhatikan secara detil apakah dataran tinggi berhawa dingin di Majalengka dan sekitarnya selalu ditanami sayur-mayur. Jika di Jawa Tengah dan sekitranya lahan-lahan tersebut selalu ditanami sayur-mayur. Seperti misalnya di lereng Merapi, Merbabu, Tawangmangu, dan Dieng. Sehingga dengan mudah masyarakat disana mendapatkan sayuran setiap hari meskipun terkadang petani yang membudidayakan sayuran tersebut harus membeli dari orang lain. Aktivitas tersebut selalu menyebabkan tanah longsor dan banjir bahkan kekeringan karena lahan-lahan pertanian selalu menggantikan lahan konservasi di berbagai dataran tinggi tersebut.

Bahan makanan yang menjadi menu makanan setiap  hari di Cimuncang dapat kita telusuri untuk mengetahui apakah aktivitas pertanian menjadi penyebab terjadinya bencana longsor di Cigintung. Mentimun dan buncis dibudidayakan petani di tanah tegalan dengan luas yang relatif sempit rata-rata sekitar 200 m2, biasanya juga dibudidayakan di pekarangan rumah. Tomat, wortel dan kangkung kemungkinan besar datang dari luar daerah karena di lahan-lahan pertanian disana tidak ditemui tanaman tersebut. Kentang berasal dari dataran tinggi Dieng dimana budidaya kentang tersebut menjadi penyebab banjir dan longsor beberapa waktu lalu. Sayuran bumbu seperti bawang, bawang merah dan lainnya juga datang dari luar daerah.

Nasi yang tersaji di meja makan berasal dari sawah-sawah warga di Desa Cimuncang yang saat ini rusak karena logsor. Ada dua dusun yang terkena longsor yakni Dusun Cigintung dan sebagian Ciranca. Pemukiman warga Cigintung berada di bawah areal persawahan dimana kemungkinan besar sebelumnya ditumbuhi oleh pohon-pohon besar berkayu. Dari jauh bukit di Cigintung terlihat seperti tumpeng yang memiliki tiga warna. Sisa-sisa hutan masih terlihat diatas persawahan dengan warna hijau mendominasi bagian atas bukit, jika diperhatikan lebih detil warna hijau tersebut adalah rerumputan dan sedikit pohon-pohon keras. Dibawahnya berwarna cokelat kehijauan dengan pola-pola yang lebih teratur dan aliran air mengalir sepanjang hari. Disanalah para petani membuat ekosistem buatan berupa sawah dan beberapa balong (kolam). Air yang melimpah menjadi alasan petani lebih memilih memilih menanam padi daripada sayuran selain karena memang tanaman padi lebih mudah dalam hal perawatan. Tanpa disadari bagian bawah bukit adalah pemukiman warga yang saat ini tidak bisa dihuni, rumah-rumah reyot, lantai rumah retak naik-turun, sekilas terlihat masih berdiri namun tembok-tembok tak lagi tegak. Kerusakan rumah di Cigintung lebih mirip seperti ditimpa gempa bumi daripada longsor.

Longsor di Cigintung adalah fenomena yang unik karena pergerakan tanah tidak diatas permukaan melainkan terjadi didalamnya. Setiap waktu tanah bergerak seperti saling bertabrakan, ada yang naik ada pula yang amblas. Salah satu jembatan yang menuju Ciranca nyaris berdiri seperti tembok akibat pergerakan tanah tersebut. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ada yang mengatakan kejadian itu karena pergerakan lempeng bumi namun uniknya hanya di satu dusun pergerakan tanah tersebut terjadi, cakupan wilayah yang relatif kecil. Sementara di beberapa lapisan tanah yang terangkat terdapat endapan tanah berwarna abu-abu tua yang sedikit berbau belerang. Entah apa yang terjadi.belum ada yang memberikan pernyataan pasti tentang penyebab kejadian tersebut.

Jika boleh berspekulasi, mungkin pergerakan tanah tersebut akibat kegiatan pertanian di daerah tersebut. Sawah-sawah warga telah menggantikan peran tanaman keras sebagai penyimpan air. Genangan air di sawah sepanjang waktu menyebabkan tanah tidak sanggup lagi menyimpannya, apalagi jenis tanah disana adalah tanah liat yang susah mengalirkan air didalam permukaan tanah. Kondisi tersebut diperparah dengan penggunaan urea secara besar-besaran sehingga tanah permukaan menjadi keras. Oleh karena itu tanah yang berada didalam permukaan menjadi bergerak mengikuti aliran air dibawah permukaan tanah. Hal ini berbeda dengan lahan yang ditanami sayuran yang tidak digenangi air, jika terjadi longsor tanah bergerak di permukaan tanah. Gerakan air dibawah permukaan tanah tidak lancar seperti diatas permukaan tanah, oleh karena itu tanah bergerak tidak secara kontinyu dan dipengaruhi oleh pergerakan air didalamnya.

Tanpa saya sadari nasi yang saya makan berasal dari persawahan tersebut yang mungkin menjadi penyebab longsor di Cigintung. Nasi tersebut masuk ke dalam menu makan saya sehari-hari. Dimana menu makan tersebut adalah sebuah produk yang bernama pertanian. Demikianlah pertanian bisa menjadi seperti pisau bermata dua, disatu sisi menguntungkan disisi lain membahayakan. Maka secara bijak seharusnya petani “tahu” sisi pisau mana yang harus dipakai. Masyarakat juga tidak seharusnya “memaksa” petani menggunakan sisi pisau yang membahayakan. Karena sesungguhnya konsumen pangan sangat mempengaruhi cara bertani petani, semakin tinggi permintaan pangan semakin intensif lahan-lahan konservasi dialihfungsikan. Itulah menu makan saya bagaimana dengan anda?